Logo EFT

Mempertahankan Hasil Hutan Bukan Kayu dari Gempuran Tanaman Industri: Kisah ibu Mardiatin dari Desa Pejalin.

08 December 2025

Mempertahankan Hasil Hutan Bukan Kayu dari Gempuran Tanaman Industri: Kisah ibu Mardiatin dari Desa Pejalin.

Budidaya tanaman yang termasuk hasil hutan bukan kayu (HHBK) merupakan strategi penting untuk melestarikan hutan melalui pendekatan yang inkulsif dan berkelanjutan yang mana akan meberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan secara beriringan. Budidaya tanaman HHBK memberikan manfaat ekonomi dan sosial yang dapat mengurangi tekanan terhadap tutupan hutan dengan mendorong pengelolaan hutan yang berkelanjutan serta mendukung adaptasi terhadap perubahan iklim dengan memanfaatkan hutan tanpa harus merusak fungsi hutan tersebut yaitu pengelolaan hutan yang tidak hanya berfokus pada hasil kayu tetapi juga pada hasil sampingannya. Dengan pemanfaatan HHBK, manfaat tidak hanya dirasakan pada konservasi hutan tetapi juga memberikan manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat yang tinggal di sekitar hutan. Hal ini juga dirasakan oleh masyarakat di desa Pejalin, Kalimantan Utara, termasuk ibu Mardiatin (38).


Mardiatin, yang akrab disapa ibu Yen, memimpin Kelompok Usaha Bersama (KUBE) “Kita Merong” telah membuktikan bahwa perempuan desa bukan hanya pelaku usaha tetapi mereka juga penjaga sumber daya alam dan penggerak perubahan. Desa Pejalin memiliki kekayaan alam berupa perkebunan kakau yang tak hanya menopang ekonomi, tetapi juga melindungi sumber mata air vital bagi kehidupan dan pertanian. Namun, ancaman datang ketika petani mulai beralih ke kelapa sawit karena harga kakau yang rendah dan tidak stabil. Melihat potensi kepunahan kakau, KUBE Kita Merong mengambil langkah berani yaitu dengan mengolah biji kakau menjadi produk bernilai tinggi. Dengan dukungan dari pemerintah daerah, mereka meluncurkan produk cokelat bubuk dan batangan dengan merek Kayan Koa. Lebih dari sekadar usaha, ini adalah bentuk perlawanan terhadap eksploitasi alam dan ketidakadilan ekonomi.


Mardiatin mengetahui adanya skema Dana Transfer Anggaran Kabupaten Berbasis Ekologi (TAKE) diberikan kepada desa dari kabupaten Bulungan. “kami secara aktif mengusulkan kepada pemerintah Desa Pejalin untuk difasilitasi penyediaan sarana produksi untuk mengembangkan usaha produk turunan Kakau. Karena kami tahu, salah satu penggunaan dana TAKE adalah untuk pengembangan usaha ekonomi yang berkontribusi terhadap pelestarian lingkungan. Dan alhamdulilah di akomodir oleh pemerintah Desa,” Jelas Mardiatin. Pada tahun anggaran 2022–2023, Desa Pejalin mengalokasikan Rp 247.500.000 untuk pembelian mesin pengolah, modal awal, dan pelatihan usaha. Kini rumah produksi Kayan Koa dapat mengolah rata-rata 10 kg biji kakau kering per hari atau sekitar 300 kg per bulan. Semua biji kakau dibeli langsung dari petani lokal dengan harga stabil Rp 80.000–Rp 90.000 per kg sehingga petani tidak lagi kesulitan menjual hasil panen dan komunitas perempuan memperoleh keuntungan Rp 6–10 juta per bulan. Pada Mei 2024, produk Kayan Koa secara resmi diluncurkan oleh Bupati Bulungan dan mendapat dukungan dari Dinas Koperasi UMKM, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, serta Dinas Pertanian.


Ibu Yen dan komunitasnya telah membuktikan bahwa perempuan desa mampu menjadi motor pembangunan. Dengan sinergi antara pemerintah desa, daerah, dan lembaga pendukung, mereka menciptakan model usaha yang berkelanjutan dan inklusif. Keberhasilan KUBE Kita Merong telah mendorong warga untuk kembali menanam kakau. Pemerintah desa memperkuat gerakan ini dengan memberikan bantuan bibit kakau khususnya di lahan-lahan sumber mata air. Perempuan kini menjadi aktor utama dalam pembangunan ekonomi dan pelestarian lingkungan. “Insentif TAKE semestinya terus ditingkatkan, agar semakin banyak muncul inisiatif lainnya di berbagai desa khususnya di Bulungan. Saya yakin, tanpa instrumen insentif TAKE yang juga mendorong penguatan perempuan dan pemberdayaan ekonomi, maka kegiatan-kegiatan Desa tidak akan berkembang,” Jelasnya dengan penuh semangat.


Mempertahankan Hasil Hutan Bukan Kayu dari Gempuran Tanaman Industri: Kisah ibu Mardiatin dari Desa Pejalin.

Mempertahankan Hasil Hutan Bukan Kayu dari Gempuran Tanaman Industri: Kisah ibu Mardiatin dari Desa Pejalin.


Share:

Loading...
Logo EFT

About Us

EFT Indonesia menjadi platform digital untuk mengakses dan menyebarkan informasi seputar inisiatif seperti TAPE, TAKE, dan ALAKE. Selain sebagai pusat data dan publikasi, EFT juga menjadi ruang kolaborasi untuk mendorong aksi nyata menuju Indonesia hijau yang inklusif.

Akses Cepat

Peta EFT

Event

Media

Lembaga Koalisi

Kontak Kami

Tentang Kami

Berita Terkini

Kontak Kami

Hubungi kami untuk pertanyaan, kerjasama, atau informasi lebih lanjut mengenai EFT Indonesia.

Copyright © 2025 All Rights Reserved.